Ange Gardien (Guardian Angel) – Chapter 1

Ange Gradien Cover

 

Title : Ange Gardien (Guardian Angel)

Author : devolyp

Cast : Lee Ji Eun (IU); Song Joong Ki; Jang Wooyoung; Bae Su Ji (Suzy)

Genre : Drama

Rating : PG-15

Length : Chaptered

 

CHAPTER ONE

“I will never stop to protect you, even if it will kill myself.” –Anonymous

 

Wooyoung-ah, I trust you,”

Ne, hyung.

Beep. Tanda suara telepon sudah ditutup.

Uridul damajun sajinuel taewo
Hanadul moadum gieoeul jiwo
Giman ireona gaya haneun geol
Neomu jaralgo innuende
Wae nan jujeoango maneunji…

 

Enough!

Bryan, guru vokal Ji Eun, setengah berteriak, sambil memberi kode diam untuk Ji Eun.

“Latihan hari ini sudah cukup,” Bryan membereskan lembaran berkas-berkas yang berisikan jajaran not.

You did a good job! See you next Monday! Just don’t forget to practice at home, Ji Eun-ssi. Arachi?”

Bryan tersenyum. Ia mengusap lembut kepala Ji Eun, kemudian bergegas pergi membawa tas hitamnya.

Ji Eun mengusap keringat di dahinya dengan punggung tangannya.

Seorang yeoja yang sedang mengejar mimpinya ini terlihat sangat lelah.

Ia langsung terjatuh duduk di lantai seketika Bryan meninggalkan ruangan latihan.

Jam tangan di tangan sebelah kanan Ji Eun telah menunjukkan pukul sepuluh malam.

Ji Eun memejamkan matanya sejenak, berharap bahwa detik berikutnya ia sudah akan berada di atas tempat tidurnya.

“Ji Eun-ah! Gwaenchanha?”

Lelaki itu menyentuh lembut dahi Ji Eun.

Gwaenchanha-yo, oppa.

Ji Eun serta merta berdiri membereskan barang-barangnya.

“Biarkan oppa saja yang membereskan barang-barangmu.”

Lelaki ini menyingkirkan tangan Ji Eun dan menyuruhnya untuk tetap duduk, “…kau terlihat sangat lelah.”

Gomawo-yo, oppa.” Ji Eun tersenyum lemah.

Ji Eun bergumam di dalam hati, “Gomaw0-yo, oppa. Kau selalu ada di sisiku di setiap aku membutuhkanmu. Kau tidak pernah mengeluh sama sekali, walaupun aku juga sering sekali membuatmu lari kesana kemari. Terlebih lagi, aku tidak pernah melihatmu lelah ketika bersamaku. Gomawo-yo, Wooyoung oppa.”

Ji Eun memejamkan matanya lagi.

“Nah, sekarang sudah beres semua. Let’s go home! Kajja!

Tangan Wooyoung membentuk lingkaran, meminta Ji Eun untuk menggandengnya.

“Bolehkah aku meminta satu permintaan?”

Ji Eun memandang Wooyoung dalam.

“Ah Ji Eun-ah, jangan memandangku seperti itu. Mana bisa aku menolak permintaanmu.”

Wooyoung tersenyum sambil membenarkan poni Ji Eun yang terlihat sedikit berantakan.

Give me a piggyback. I’m too tired to walk, oppa.”

Ji Eun memandang Wooyoung lebih dalam dari sebelumnya.

Wooyoung tersenyum sangat lebar. Ia langsung membelakangi Ji Eun, menurunkan postur tubuhnya supaya Ji Eun dapat menaiki punggungnya dengan mudah.

Ji Eun tidak menyangka Wooyoung akan langsung menuruti permintaannya.

Tanpa berpikir panjang, Ji Eun langsung melompat ke atas punggung Wooyoung.

Ia sudah terlalu lelah untuk berbasa-basi lagi.

Kamsahabnida, oppa.” Ji Eun berbisik tepat di telinga Wooyoung.

Wajah Wooyoung setengah menoleh ke arah Ji Eun. Ia tersenyum kecil, kemudian berjalan keluar dari ruang latihan menuju ke mobil yang terparkir tepat di depan pintu utama gedung Cube Entertainment.

Wooyoung melangkahkan kakinya dengan sangat perlahan, entah karena ia tidak ingin membangunkan Ji Eun atau tidak ingin momen langka ini berakhir dengan cepat.

Wooyoung meletakkan Ji Eun rapi di kursi depan. Ia juga tidak lupa menyelimuti Ji Eun, agar Ji Eun tidur dengan nyaman.

Wooyoung menyetir dengan lembut, mengantarkan Ji Eun ke rumahnya.

Sweet dream, Ji Eun-ah,” bisik Wooyoung dalam hati, sambil tersenyum senang.

 

“Ha! Ini kesekian kalinya kau melamun, Joong Ki oppa,”

Suzy melemparkan kertas yang telah ia remas-remas ke meja Joong Ki.

Aigoo Suzy-ah, kau selalu membuatku kaget. Lagipula siapa yang melamun, aku sedang mengerjakan laporan untuk meeting besok.”

Joong Ki bangkit berdiri dari bangkunya, melangkahkan kakinya untuk mengambil secangkir teh di meja seberang.

“Sudahlah, jangan bohong lagi. Oppa masih teringat pada gadis kecil itu, kan? Terlihat jelas di muka oppa,” Suzy menutup notes-nya, “Well, sebenarnya ia tidak sekecil itu, seharusnya dia seumuran denganku.”

Ia berjalan ke arah meja Joong Ki.

Mata Suzy terarah ke kiri atas, menunjukkan bahwa dirinya mengingat-ingat sesuatu.

“Atau mungkin ia malah lebih tua dariku?” Suzy berbicara kepada dirinya sendiri.

Bingo! Aku memang tidak pernah berhenti memikirkannya. Tapi aku juga tidak mau hal tersebut menggangguku untuk menyelesaikan laporan meeting bulan ini. Team Leader sudah memberiku banyak kompensasi,” Joong Ki sudah kembali ke bangkunya. Ia melanjutkan mengetik beberapa kalimat yang belum ia selesaikan.

“Memangnya ada laporan penting apa bulan ini? Aku jadi penasaran. Kau terlihat sangat serius.”

Suzy melihat ke arah layar komputer Joong Ki.

“Eits, rahasia!”

Joong Ki berusaha menutupi layar kerjanya, “Kalau kau mau tahu lebih awal mengenai isi laporan meeting yang sedang kukerjakan, kau harus mentraktirku dinner terlebih dahulu. Bagaimana?”

Joong Ki tersenyum nakal.

Suzy manyun sebal, tapi tetap tidak mau kalah.

“OK!”

Kemudian Suzy berusaha untuk menyingkirkan tangan Joong Ki yang masih menutup-nutupi layar komputernya dari sisi samping sebelah kanan Joong Ki.

Sampai… Duk!

Suzy jatuh di pangkuan Joong Ki.

Kedua manusia ini tercengang selama beberapa detik.

Tanpa ada suara, tanpa ada ucapan.

Mata Joong Ki tetap memandang wajah Suzy, sedangkan tangan Joong Ki tetap pada posisinya yang mencegah Suzy agar tidak terjatuh ke lantai.

This is what you called awkward moment.

Pyong Pyong Pyong!

“Ah, joesonghabnida, oppa,” Suzy langsung cepat berdiri, “Aku tidak bermaksud…”

Gwaenchana-yo, Suzy-ah. Aku sudah menganggapmu seperti adikku sendiri. Nae dongsaeng.”

Joong Ki tersenyum lebar, sambil mengacak-acak rambut Suzy.

Seakan tidak terjadi apa- apa, Joong Ki kembali menyibukkan dirinya dengan laporan meeting-nya, Suzy pun kembali ke mejanya, membuka lagi notes yang tadi sudah ditutup, berpura-pura menulis sesuatu di atas notes-nya itu.

 

Jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam, tepat dua jam yang lalu, office workers yang lain sudah berpamitan pulang pada Joong Ki, selaku wakil Team Leader di divisi tersebut, divisi Training Management.

Rutinitas yang sama setiap hari, Suzy selalu menemani Joong Ki untuk lembur di malam hari. Rutinitas ini tidak terjadi begitu saja tanpa ada alasan, tentu saja ada alasan kuat mengapa Suzy mau merelakan waktunya untuk tetap bersama Joong Ki, hingga mengorbankan waktu berharga yang biasa ia gunakan untuk bersantai-santai di kamar apartment-nya.

 

Joong Ki adalah seorang pekerja keras dan sangat cerdas. Otaknya dipenuhi dengan ide-ide yang sangat cemerlang, bahkan seorang Team Leader juga belum sempat memikirkan ide tersebut. Tidak ada yang terkejut ketika Joong Ki dapat meraih posisi tersebut–wakil Team Leader–dalam waktu yang relatif singkat. Ia sangat cekatan dan tentu dapat diandalkan. Team Leader hampir selalu mempercayakan segala project yang didapatkan dari atasan kepada Joong Ki. Seisi kantor sangat mengagumi cara kerja Joong Ki yang tak terduga.

 

Sedangkan Suzy, ia adalah salah satu anggota dalam team tersebut. Suzy mengabdikan dirinya di divisi Training Management, karena sunbae idolanya juga bekerja di sini, ya, Anda benar, Joong Ki adalah sunbae idola Suzy. Predikat sunbae idola itu telah diraih oleh Joong Ki, persis sejak pertama kali Suzy duduk di tahun pertama di Howon Senior High School.

 

Sebenarnya, sudah sejak awal pertemanan dimulai, Suzy menaruh hatinya pada Joong Ki, namun Joong Ki tidak kunjung mengerti setiap pendekatan yang dilakukan oleh Suzy. Begitu juga hari ini.

Joong Ki seperti tidak pernah memberikan satu kesempatanpun pada Suzy untuk menjadi tambatan hatinya. Mungkin ini semua terjadi karena kehadiran gadis polos itu. Gadis polos yang bertemu dengan Joong Ki setahun yang lalu. Hanya Joong Ki, Suzy dan satu orang lagi yang tahu mengenai pertemuan ini.

Pertemuan tidak disengaja, yang sangat dirahasiakan.

 

“Suzy-ah, apa kau tidak mengantuk?”

Joong Ki membereskan berkas- berkas di mejanya.

Ne, oppa. Tentu saja aku mengantuk. Apa kau tidak sadar bahwa sedari tadi aku menunggumu? By the way, apakah setelah ini kau ada acara?”

Suzy tersenyum malu sambil membereskan peralatan tulisnya. Kemudian mengaca sebentar, mengecek apakah lipstiknya masih teroles rapi di atas bibirnya.

Aniya. Aku tahu, pasti kau lapar bukan? Okay, mari kita makan. Today will be my treat.”

Menit berikutnya, Joong Ki sudah berdiri di samping Suzy.

Joong Ki membungkukkan badannya, mendekatkan wajahnya ke wajah Suzy. Kemudian menoleh sedikir, berbisik ke telinga Suzy, “Tenang saja, aku tidak akan menceritakan hal tadi ke siapapun. Hmmm. Suzy duduk di pangkuanku. Ke ke ke.” Joong Ki tersenyum sangat nakal.

Wajahnya masih sangat dekat dengan Suzy.

Suzy menoleh, ia menangkap kedua mata Joong Ki yang sangat bersinar.

Hidungnya yang sangat mancung, serta kedua pipinya yang begitu merah muda.

Kiss.

Detik berikutnya, bibir Suzy telah mendarat dengan mulus di atas pipi Joong Ki yang merah merona.

Suzy yang segera menyadari situasi tersebut, segera melanjutkan membereskan barang-barangnya. Ia ingin sekali cepat pergi dari ruangan tersebut. Mukanya jelas sekali memanas.

Seketika ia berdiri hendak meninggalkan bangkunya, tangannya ditahan oleh Joong Ki. “Ah, kau orang yang tidak bertanggung jawab rupanya.”

Joong Ki berdiri menyandar di bangku kerja Suzy, kemudian menarik tangan Suzy sedikit keras, sehingga Suzy dapat dengan mudah jatuh ke pelukannya.

Mianhae, Suzy-ah. Aku bukannya tidak memperhatikanmu selama ini,” Joong Ki tetap memeluk Suzy, “aku hanya ingin memastikan bahwa aku sudah melupakan gadis itu, dan siap untuk menjalin hubungan yang baru.”

“Apakah hari itu sudah datang, oppa?” Suzy berbisik.

Ne, aku pikir begitu. Apakah mulai hari ini kau mau menjadi seseorang yang sangat spesial buatku?”

Joong Ki melepaskan pelukannya untuk menatap mata Suzy.

Suzy tersenyum dengan sangat lebar.

Ne, oppa. Tentu saja. Kalau kau tahu, aku sudah menunggu pertanyaan itu sangat lama. Aku tidak ingin menunggu lagi. Tapi…apakah kau serius dengan semua ini? Kau tidak menjadikanku pelampiasan, bukan?”

Kedua mata Suzy beralih ke lantai, ia tidak berani menatap Joong Ki.

Joong Ki mengarahkan pandangan Suzy kembali kepadanya.

Tangan kirinya menyentuh pipi Suzy, sedangkan tangan kanannya sibuk mengagumi setiap helaian rambut Suzy yang tertata dengan rapi hari ini.

“Kamu percaya padaku, bukan? Well, you know, aku tadi berbohong saat mengatakan kalau kau hanya kuanggap sebagai dongsaeng semata. Aku justru takut kau mengetahui bunyi detak jantungku ketika kau jatuh di pangkuanku.”

Joong Ki mengatakannya dengan penuh kharisma.

Oppa saranghae,” Suzy kembali memeluk Joong Ki.

Joong Ki membalas pelukan tersebut dengan sangat hangat.

Tanpa suara dan tanpa tawa.

Inilah waktu yang mereka damba-dambakan.

Atau apakah hanya Suzy yang mendambakannya?

 

 

Setelah mengantarkan Ji Eun ke rumahnya, Wooyoung kemudian berpamitan kepada Ji Eun halmeoni, yang tinggal bersama dengan Ji Eun.

Kamsahabnida, Wooyoung-ah. Kamu baik sekali, selalu mengantar Ji Eun pulang ke rumah dengan selamat.”

Aniya, Ji Eun halmeoni. Saya kan manager Ji Eun, jadi ini sudah menjadi bagian dari pekerjaan saya. Ji Eun halmeoni tidak perlu berterima kasih.”

“Kamu anak yang baik, Wooyoung-ah. Hati-hati di jalan, o?”

“Pasti! Saya pulang dulu, Ji Eun halmeoni.

Ne.

Ji Eun halmeoni mengantarkan Wooyoung sampai ke depan rumah. Ia melambaikan tangannya sampai mobil Wooyoung melaju, meninggalkan rumah Ji Eun.

 

Wooyoung menyetir pulang dengan perasaan yang bahagia.

“Aku sudah lama tidak melihat Ji Eun selelah itu. Ia pasti berusaha keras untuk debutnya minggu depan.”

Beep. Beep. Nada panggil tanda telepon masuk berdering.

Yoboseyo.

Ne, ini Joong Ki.”

“Ah, ye, hyung. Ada apa?”

“Tidak, aku hanya ingin memeriksa Ji Eun. Bagaimana keadaannya?”

“Baik, hyung. Aku baru saja mengantarnya pulang ke rumah. Hari ini ia berlatih dengan sangat keras.”

“O, maaf aku telah merepotkanmu setahun belakangan ini, Wooyoung-ah.”

Aniya, hyung. Aku yang seharusnya berterima-kasih. Hyung telah membantu biaya sekolahku selama ini. Inilah saatnya aku membalas budi kebaikan hyung. Well, tidak sepenuhnya membalas, hyung justru memberikan bantuan lagi dengan memberikan pekerjaan buatku. Aku tidak tahu bagaimana mengucapkan terima kasih kepadamu, hyung.

Ani. Jangan kau ungkit lagi masalah itu. Hanya kau harus ingat, jangan sampai ada orang lain yang tahu tentang masalah ini. Jangan sampai ada orang lain yang tahu kalau aku yang menyuruh kamu merawat Ji Eun, apalagi Ji Eun sendiri.”

Ye, hyung. Walaupun aku tidak tahu apa alasan hyung untuk menyembunyikan ini semua, aku tidak akan berkata apapun pada orang-orang, terutama pada Ji Eun.”

Joh-eun. Good.”

“Apakah hyung masih di kantor?”

Aniya. Aku sedang makan malam dengan rekan kerjaku. Ya sudah kalau begitu, ini sudah larut malam. Maaf aku sudah mengganggumu.”

Nae, araesso-yo. Annyeonghi jumuse-yo, hyung.

Annyeong.”

Klik.

Tepat sekali ketika Wooyoung menutup ponselnya, ia sudah sampai di depan rumahnya. Ia menghela napas yang sangat panjang.

Makan malam?

Bukankah ini sudah terlalu larut malam untuk makan bersama dengan rekan kerja?

Well, aku sebenarnya agak penasaran dengan setiap perintah yang diberikan oleh Joong Ki hyung kepadaku

Tapi aku tidak mungkin bisa bertanya langsung pada hyung apa alasannya.

Apakah sebaiknya aku cari tahu mengenai masalah ini?

Aku jadi takut kalau masalah ini akan membahayakan karir Ji Eun di kemudian hari.

Apa yang seharusnya aku lakukan?

Wooyoung berpikir dalam hati sebelum ia keluar dari mobilnya. Ia menggaruk kepalanya.

 

Ya, banyak pertanyaan yang belum ada jawabannya.

Kelihatannya Wooyoung perlu menemukan beberapa potongan puzzle lain untuk menyelesaikan pertanyaan- pertanyaan tersebut.

Namun, hari ini bukan hari yang tepat untuk menyelesaikan puzzle tersebut.

Ia perlu banyak istirahat setelah seharian menemani Ji Eun latihan.

Ia membuka pintu apartment-nya, mengarahkan langkah kakinya dengan cepat ke atas tempat tidur. Ia terlalu lelah dengan ritual malam untuk mengganti pakaian, menggosok gigi, dan cuci muka. Ia menidurkan tubuhnya, tengkurap. Dalam hitungan detik, Wooyoung sudah terlelap di alam tidurnya.

 

Wooyoung adalah seorang manager yang ditetapkan secara khusus oleh Joong Ki untuk berada samping Ji Eun sejak setahun yang lalu.

Truth to be told, Wooyoung adalah anak dari teman orang tua Joong Ki yang telah tiada saat Wooyoung masih berumur 5 tahun, sehingga biaya hidup Wooyoung, termasuk uang sekolahnya, juga digantungkan pada orang tua Joong Ki. Ya, oleh karena itu Wooyoung menjadi sangat berhutang budi kepada keluarga Song Joong Ki.

Ini membingungkan, ya membingungkan. Siapakah sebenarnya Joong Ki?

Sampai ia berani menurunkan titah kepada Wooyoung untuk menjadi manager Ji Eun di Cube Entertainment?

Sebenarnya, apakah posisi Joong Ki di Cube Entertainment?

Apakah benar Joong Ki hanya seorang kepala manager semata?

Kejadian apa yang terjadi setahun yang lalu sehingga Joong Ki harus menutupinya?

Sebenarnya ada teka-teki apa dibalik semua ini?

 

 

TO BE CONTINUED

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s